Jalan Cikditiro 22 Yogyakarta 55223, Indonesia Phone: (0274) 512-829 SMS: (081) 8026-16136 E=Mail: lekkerjecafe@gmail.com yogya cafe . cafe yogya . yogya cafe . cafe yogya . jogja cafe . cafe jogja .jogja cafe
Search This Blog
Saturday, July 6, 2013
KulinerKu: Lekker Je Cafe, Cafe Yang Bisa Bikin Pintar
Friday, December 21, 2012
Sunday, October 14, 2012
Saturday, October 13, 2012
Sunday, August 26, 2012
Tuesday, May 15, 2012
Friday, May 4, 2012
Friday, April 6, 2012
Friday, January 13, 2012
Ditulis oleh salah satu pengunjung Lekker Je...! Cafe
Sabtu, 10 Desember 2011
Lekker Je!
Sabtu malam datang. Saya baru saja selesai membaca beberapa jurnal antropologi yang berkaitan dengan pariwisata. Penat sebenarnya. Saya menengok ke luar kamar. Sepi. Semua penghuni kontrakan sudah keluar. Maklum, saatnya wakuncar.
Maka saya segera mandi, membereskan laptop, membawa kamera, lalu pergi keluar. Kemana? Awalnya tanpa rencana. Dasar manusia tanpa perencanaan. Maunya sih cari kafe yang ada wifi, lalu nongkrong sambil nulis sampai hari berganti.
Tapi di tengah perjalanan, saya tahu kemana tempat yang saya tuju: Kafe Lekker Je.
Saya tahu kafe ini dari seorang teman pecinta musik era flower generation. Ia merekomendasikan kafe yang sangat rock n roll ini. Oke, saya resmi penasaran. Dan malam ini, rasa penasaran itu tiba-tiba menyeruak diantara ramai jalanan dan bunyi berisik klakson.
Maka saya resmi menjalankan motor menuju arah Bulaksumur, lalu ke Jl. Cik Ditiro.
Disanalah kafe Lekker Je berada. Di depan kafe, ada sebuah motor tua terpasang. Antik.
Begitu saya memarkir motor, langsung terdengar Jim Morrison bersama The Doors berdendang lagu dangdut ciptaan mereka, "Break on Through". Entah kenapa, pas banget dengan pikiran saya yang akan menuliskan sesuatu tentang Jim Morrison. Mungkin sang penjaga kafe sadar kalau sekarang masih dalam rangka memperingati hari lahir sang raja kadal. Jadi ia memutarkan lagu The Doors.
Kafe ini dimiliki oleh mas Priambodo Budiwasisto, seorang pecinta musik rock, terutama dari era baby-boomers. Kafe ini mulai ia rintis pada tahun 2005. Ia mendesain kafenya dengan sangat keren. Banyak lampu temaram. Suasanya tenang dan syahdu. Meskipun bertajuk kafe rock n roll, suasanya jauh dari kegaduhan. Lalu ada drum di sudut kafe. Ada pula berbagai gambar band yang dipigura dengan rapi. Ada pula berbagai senjata api, kumpulan buku dan majalah yang ditumpuk seperti di banyak kamar anak laki-laki, jam antik, miniatur sepeda, dan ini yang paling sedap: ratusan piringan hitam lengkap beserta playernya.
Koleksi piringan hitam ini mulai dikumpulkan Mas Priambodo semenjak ia kuliah di Amerika Serikat. Ada The Doors, Rolling Stones, Beatles, CCR, Bob Marley, hingga Pink Floyd. Kalau anda mau, anda bisa memilih satu piringan hitam, lalu memutarnya pada player yang tersedia.
Ketika saya masuk, saya disodori daftar menu yang bergaya ala Pink Floyd, lengkap dengan segitiga pelanginya. Ada apa saja? Untuk menu makanan dan minuman, kafe yang dulunya berfungsi sebagai garasi ini tidak menyediakan begitu banyak menu. Dari minuman, ada Es Jelly, Es Terong Belanda, Es Markisa, Es MarTeBe (Markisa Terong Belanda), hingga berbagai bir. Harga minuman berkisar 5.000- 40.000 rupiah. Lalu makanan ada French Fries, Mie Goreng, Pisang Goreng, Ramen, Nuggets, hingga sushi . Harga makanan berkisar 10.000 - 22.000 saja.
Untuk mencari info mengenai kafe keren ini, silahkan pergi ke sini.
Kafe ini juga bersampingan dengan hotel Mentana, penginapan yang cocok untuk para pengelana. Harga kamarnya murah, hanya 82.500 rupiah untuk kamar single. Sedang untuk double harganya 200.000 rupiah. Ada juga kamar untuk keluarga seharga 250.000 rupiah. Info mengenai hotel ini, silahkan kunjungi situs mereka.
Maka malam ini saya memesan Es MarTeBe yang rasanya asam manis menyegarkan. Juga sepiring French Fries, lalu mulai berselancar di internet, membaca berita mengenai Sondang dan gagalnya Manchester United melaju lebih jauh di Liga Champion, sembari mendengarkan Bob Marley berkotbah mengenai pembebasan, juga cinta.
Malam minggu yang menyenangkan...
Diposkan oleh Nuran Wibisono di 20:55
Label: Makan Minum Enak, Musik, Tempat Keren
Saturday, December 31, 2011
Lekker Je Cafe : Testimonial
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire
……………..
Alunan musik dari The Door mengalun dari sebuah piringan hitam. Lekkerj Je cafe, Jln Cik Di Tiro No.22 Yogyakarta. Sore itu kota JOgja di bermandikan hujan rintik-rintik. Namun demikian, gerimis yang mendera JOgja tak menghalangi pengendara motor. Motor demi motor lalu lalang persis di depan cafe..di tempat saya duduk sore itu.
Menyeruput Jamu Tiongkok JAwa plus madu rasa dan ditemani Djarum super kesayangan saya, saya termenung dan menikmati suasana sore itu. Terkadang tamu cafe datang dan pergi.
Lekker Je cafe, sebuah cafe yang mempunyai “Image” yang khas di mata saya. MEmasukinya akan kita rasakan kesan-kesan tersendiri. Ada kesan kreatif, elegan, sixtees, dan ada juga kesan erotis. Ah…..bukan erotis…lebih tepat kalau saya katakan sensual. BErbagai hiasan dinding berupa jam dengan berbagai model dan gaya…model dan gaya yang berbeda antara jam yang satu dengan jam yang lain. Tumpukan buku dan majalah…yang kalau diperhatikan jelas-jelas buku dan majalah yang berkualitas. Sebuah indikasi bahwa si pengelola cafe memiliki taste dan interest yang tinggi dalam hal membaca. Dari buku karangan George Junus Aditjondro yang tempo hari sempat menggegerkan Republik ini dengan bukunya “Membongkar gurita cikeas” sampai majalah National Geographic bisa kita jumpai di sana. Seperangkat drum, gitar akustik dan Tulisan Rock Never Die menambah kesan bahwa si empunya cafe memang penggemar musik rock.
Sambil menikmati jamu, saya melayangkan pandangan saya pada pintu kaca…sepintas nampak seperti biasa…tapi setelah saya cermati …wow…ada kesan erotis ah…kesan sensual di sana. Hm…fantasi tingkat tinggi…..
Cafe ini saya rasa memang cafe yang benar-benar cocok untuk dijadikan tempat menikmati sore maupun weekend. Para pengunjungnya pun terlihat nyaman, dari mulai sekedar ngobrol maupun sibuk dengan laptopnya ….hei…di lekkerj je cafe ada hotspotnya lho, jadi kalau anda berminat…datanglah dengan membawa serta laptop anda..
Ah….rupanya gerimis sudah berhenti. Perut sudah mulai keroncongan, rupanya cacing-cacing dalam perut saya sedang berdemonstrasi layaknya mahasiswa demo di depan kantor DPR yang sedang membahas kasus century.
Sore yang rileks dan menyenangkan.
Culinary Yogyakarta (another reviewed)
Trip Adviser Review
Diulas pada Oktober 2, 2011
1 orang berpendapat bahwa ulasan ini bermanfaat
Don't do anything, just go there, order a cold beer, sit back, relax,...and enjoy. You'll feel like hanging round with rockstars... It's a must visit for backpackers & bikers. Oh, and they have a backpacker hostel too.
Thursday, December 29, 2011
http://jajalindo.com/culinary/lekker-je-cafe.html
Lekker Je Café, salah satu café yang sangat asik dijadikan tempat nongkrong sampai larut malam di Kota Yogyakarta ini. Interior café yang dibuat sangat unik dan eksotik dengan poster-poster dan hiasan dinding yang member kesan tersendiri. Lekker Je Café ini juga menyediakan bermacam-macam majalah dan juga buku yang ditata sangat apik seperti sebuah kamar anak muda.
Café yang berdiri tidak dengan konsep yang utuh ini malah menjadikan Lekker Je Café menjadi café yang sangat unik. Semua perlengkapan unik yang ada di Lekker Je Café adalah barang-barang koleksi owner café ini semasa kuliah di Amerika. Ada berbagai macam benda unik dan menarik yang menjadi koleksi Lekker Je Café, diantara barang unik itu adalah jam dinding yang berbagai macam bentuk, dan juga buku-buku yang ditumpuk begitu saja. Para pengunjung dapat meminjam dan membaca buku yang ada di Lekker Je Café ini sambil menikmati aneka hidangan yang disediakan.
Suasana Lekker Je Café yang sangat unik ini membuat banyak orang menyewa Lekker Je Café untuk pemotretan dan juga pernah dijadikan sebagi lokasi pembuatan film indie. Ini semua menjadikan Lekker Je Café menjadi tempat nongkrong yang mempunyai karakter yang kuat, sulit digantikan dan menjadi favorite bagi kalangan anak muda di Kota Yogyakarta.
Lekker Je Café menyediakan gratis wi-fi di sekitar area café, ini akan memudahkan pengunjung yang datang untuk mengakses berita dari dunia maya yang selalu uptodate. Selain itu Lekker Je Café juga menjual kaos ala Lekker Je Café yang dibandrol dengan harga yang sangat terjangkau.
Untuk menu yang ditawarkan Lekker Je Café ini adalah berbagai macam minuman kopi, seperti original coffee, capuchino, moccachino, ice coffee, ice tea lemon dan masih banyak varian minuman panas dan dingin yang lainnya. Untuk makanannya Lekker Je Café menyediakan spaghetti bollognese, mushroom and sosis, ommelete, pisang keju/coklat dan banyak yang lainnya.
Thursday, September 1, 2011
Testimonial (This is written by our customer). Posted by ade suryani at 3:41 PM
Tiba di Jogja malam hari dan saya langsung menuju backpacker hotel yang saya tumpangi. Murah. Saya nginap 3 hari 4 malam cuma habis 280ribu saja. Tapi yaa, what can u expect dari harga segitu. Nggak pake AC, kamar mandi di luar (tapi di samping kamar sih) dan gak ada yang namanya sea view (ya lautnya juga memang gak ada sih :P ). Tapi suasananya lumayan tenang menurut saya. Lokasinya dekat dari kampus UGM, Bulaksumur. Dan yang punyanya juga baiiikkk sekali. Dan cafe di samping hotelnya juga enak. I'll tell u later about this.
Baiklah, seperti yang saya bilang di part 1, kali ini saya akan cerita soal sebuah tempat di Jogja yang asik tapi jarang sekali dipublish. Ini memang hanya sebuah cafe kecil, tapi suasananyaa... wuooo.. ciamik!
Namanya Lekker Je..! Cafe. Lokasinya bersisian, eh tepatnya satu lokasi sama Hotel Mentana tempat saya menginap itu. Alamat persisnya sih di Jl. Cik Ditiro no.22, sekitar 500m sebelum bundaran kampus UGM Bulaksumur (dari arah Gramedia).
Apa yang menarik dari cafe ini? Before I tell u, mendingan liat foto-fotonya dulu deh.. Cekidot.
Cozy, dan free internet hotspot
romantic with dim light at the corner
Cool, huh?
big round table for nongkrong semaleman
books, free to read
the ornaments, rock n roll sekaliiiii...
turn table, music player dan meja karambol
The owner; take a look at his T-shirt. haha
Bob Marley at the enterance
So, how can I tell you about this place, ya??
Hmm....Gini. Kalo kamu adalah penikmat rock 'n roll, nyari tempat yang enak buat nongkrong dari pagi sampe malem, atau penyuka musik jaman 70an, bisa leyeh-leyeh, internetan, makan dan ngobrol-ngobrol sama temen nongkrong, there's no better place in Yogyakarta than this cafe! Trust me.
Mas Priambodo Budiwasisto, konon begitu nama pemilik kafenya, menyulap garasi dan teras rumahnya menjadi kafe yang messy yet cozy. Berhubung garasinya jadi kafe, maka 2 jeep andalannya terpaksa parkir (sekaligus dipamerin) di teras dan tepi jalan. Table-nya ada yang sebagian di dalam ruangan, ada juga yang di teras. Barang-barang dan ornamen di dalamnya juga sebagian besar koleksi pribadi si pemilik, jadi suasana cafenya terasa lebih personal dibandingkan cafe lain yang sejenis (Hard Rock Cafe, misalnya). Lalu, ada apa aja sih di sini?
Ada drum di pojokan kanan, kayanya sih boleh dimainin (tapi saya gak nyoba). Ada beberapa, entahlah mungkin ratusan, koleksi piringan hitam dari berbagai musisi sejaman Rolling Stones, The Beatles, Led Zeppelin, Pink Floyd, Bob Marley, Queen dan temen-temennya. Tapi tenang aja, beberapa lagu dari era baru seperti Jason Mraz juga sesekali terdengar sih, gak melulu oldies kok. Dan kalau kamu beruntung, Masnya akan muterin lagu yang kamu request langsung dari piringan hitamnya. Semua piringan hitam di sana adalah koleksi pribadinya sang pemilik. Dan saya terkagum-kagum sama selera musik dan literaturnya. Kalo saya baca-baca dari blognya sih, dulunya si Mas ini pernah kuliah di Amerika jaman tahun 70-an. Waktu saya tanya ke beliau "Mas ini kayanya flower generation ya?", dia malah cengengesan. hehehhee... Ada salah seorang pengunjung yang ngasih testimonial di blognya, katanya nongkrong di cafe ini "..jd inget bokap dirumah yang punya banyak koleksi the rolling stones..". Nice, isn't it?
Gak cuma itu, di sini juga nyaman sekali untuk sekedar duduk santai, nyeruput kopi susu sambil baca-baca. Ada buku-buku yang ditumpuk begitu saja di sekitar meja. "Sengaja ditumpuk asal, karena dulunya di kamar saya juga begitu keadaannya", kata Masnya. Bukunya lumayan beragam. Mulai dari 'Kiat Melamar Pekerjaan', buku-buku manajemen, cara memasang pipa, novel, kamus, sampai petunjuk cara bercocok tanam marijuana. hehehe... Bahkan, saya juga nemu biografinya Janis Joplin di sini! Fotokopian sih, tapi Janis Joplin gitu lho!! Sialnya, saya ngeliat buku itu sebelum saya beranjak pulang. Aaaahh...sayang banget. Gak sempet dibaca jadinya.
Gak cuma buku, di sini juga ada seperangkat alat sholat permainan yang bisa dinikmati kalo lagi nongkrong bareng temen-temen. Ada kartu remi, catur, monopoli, sampe meja karambol! Gak bakalan mati gaya deh di sini.
Soal makanan gimana? Hmmm..untuk makanan sih nggak terlalu banyak pilihannya. Ada pisang bakar coklat/keju, Spaghetti Bollognese, Mushroom & Sosis Ommelete, Ice Jelly, kopi susu, capuccino, cold beer, dll. Harganya juga standar, 25 ribu juga sudah kenyang. Oh iya, nasi gorengnya lumayan enak!
Cafenya buka setiap hari dari pagi jam 6:00 sampai jam 12:00 malam. Tapi kalo udah nongkrong di sini, beuuh...(saya sih) rasanya betah, gak pengen pulang. hehehe...
Nah coba deh kalo ada yang lagi berkunjung atau memang di tinggal di Jogja, sempatkan untuk mampir di cafe ini.
Menyenangkan!
Take my words!
Wednesday, February 9, 2011
Friday, December 3, 2010
tagtung.com
Jl. Cik Di Tiro 22
Rolling Stones, Pink Floyd, Led Zeppelin, The Doors, Genesis, Michael Frank, Bob Marley, Queen, dll.. Jika Anda pencinta musik era 70an, pasti sudah biasa mendengar lagu-lagu mereka dari koleksi CD atau file MP3.
Lain ceritanya jika Anda nongkrong di kafe ini, lagu-lagu mereka akan menemani malam Anda dan semua bersumber dari koleksi ratusan piringan hitam yang tersedia di sini. The rock and roll cafe, adalah sebutan yang bukan mengada ada, sangat mewakili untuk memberi gambaran tentang tempat nongkrong ini.
Interior yang unik, atau bisa dibilang eksotik. Poster poster, dan bermacam hiasan dinding, memberi kesan tersendiri. Tersedia bermacam majalah, buku - buku yang disediakan untuk bisa Anda baca saat nongkrong di cafe ini, ditata bertumpuk layaknya di kamar anak muda.
Ketika ditanya mengenai konsep interior cafe ini, Priambodo yang adalah owner dari cafe ini menyatakan tidak ada konsep tertentu, hanya saja semua yang ada di cafe adalah barang-barangnya semasa kuliah, seperti koleksi piringan hitam yang dikumpulkannya ketika masi berkuliah di Amerika.
Jam - jam dinding yang bermacam bentuk dan unik itu adalah sisa ketika berjualan di pasar senin Jakarta. Buku - buku dan majalah adalah koleksi pribadi yang dia pindah ke cafe dan ditata ditumpuk begitu saja karena biasanya kalau di kamar juga seperti itu.
Keunikan interior Lekker je cafe dimanfaatkan banyak orang sebagai lokasi untuk sesi pemotretan, baik itu model atau bahkan ada juga yang menggunakannya untuk lokasi pembuatan film indie.
Jelas tempat nongkrong yang punya karakter, sulit digantikan, membuatnya menjadi tempat favorit banyak komunitas. Selain komunitas lokal, cafe ini juga menjadi pilihan tempat singgah komunitas dari luar kota yang sedang berkungjung ke Jogja, seperti para biker.
Menu yang ditawarkan Ice Cofee, Cappuchino, Kentang, Pisang keju/coklat, Spaghetti Bollognese, Mushroom & Sosis Ommelete, Ice Jelly, dll. Tersedia fasilitas hotspot (Wi-Fi)
Cafe ini menyatu dengan hotel Mentana, sebuah hotel sederhana yang cocok untuk para backpacker atau pengendara motor yang sedang tour.Berlokasi di 100 meter sebelah selatan bundaran kampus UGM, tepatnya di depan laboratorium Pramita jalan Cik Di Tiro.
Buka setiap hari dari pagi jam 6:00 sampai jam 12:00 malam.
Monday, August 16, 2010
Tuesday, June 8, 2010
Saturday, May 22, 2010
Thursday, May 20, 2010
Monday, May 17, 2010
Thursday, April 29, 2010
Monday, April 5, 2010
Reviews (1) The Backpacker World Restaurant Index is here to help you find the very best cheap eats in Yogyakarta
Sunday, April 4, 2010
Friday, April 2, 2010
Berita Jogja
Dan ternyata, ruang cafe itu dulu adalah garasi mobil yang telah ia sulap menjadi ladang rezeki. Cafe ini hadir sejak Agustus 2005. Ia kini merupakan salah satu pilihan penikmat kafe dan hiburan. Cafe ini tak sekadar memberi pilihan, tapi berbagai keunikan.
Priambodo kreatif dalam membuat dan mendesain cafe ini. SeSemua barang yang jadi ornamen untuk kafe ini adalah barang rongsokan dan aksesoris kamar pemilik. Saking uniknya, cafe ini beberapa kali menjadi lokasi penggambilan gambar film indie.
Fasilitas yang bisa dinikmati dari Lekker Je adalah ratusan koleksi piringan hitam yang bisa diputar kapan saja, hotspot, dan suasana cafe yang khas 70-an. Berbagai piringan hitam tersebut merupakan koleksi Priambodo, seperti The Doors, Rolling Stones,CCR, Bee Gees, The Beatles.
Kafe ini juga mudah untuk didatangi karena jam buka nya relatif lama. “Kafe ini selalu buka tiap hari, dari jam 6 pagi hingga jam 12 malam”, ujar Priambodo.
Makanan dan minuman yang ditawarkan cukup bervariasi. Yang paling terkenal dari Lekker Je adalah jus durian jeli karena kemasan dan rasanya sangat menarik. Harga makanan dan minuman juga relatif terjangkau.
Dengan mengantongi uang sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu, pengunjung bisa menikmati kafe sembari bernostalgia dengan lagu-lagu lama yang melegenda. Tak hanya itu, kenikmatan pengunjung dilengkapi dengan kesempatan menjelajah internet gratis.
Check it out !
Nice place to chillin...
hang out till midnight...
yg punya rocker gaek yg rock&roll juga..
tambah pinter kalo nongkrong di sini...banyak buku unik
emang lekker ...
you rock om..
I like it
www.bulaksumur-online.com
Siapa bilang nuansa kuno itu ketinggalan jaman? Buktinya, kafe atau restoran yang memiliki konsep tempo dulu justru banyak diburu orang.
Meski kini banyak bermunculan tempat makan dengan nuansa modern, tempat makan bernuansa tempo dulu tak ditinggalkan penikmat kuliner. Unik, itulah alasan tempat makan tersebut masih diburu pelanggan. Setidaknya itulah yang coba ditawarkan kafe dan restoran bernuansa tempo dulu, seperti Lekker Je dan Kedai Tiga Nyonya.
Bernostalgia sejenak
Alunan lagu milik The Rolling Stone samar-samar terdengar dari sebuah kafe di Jalan Cik Ditiro petang itu. Tembang-tembang manca lawas semacam itu tak pernah absen diperdengarkan bagi para pengunjung Lekker Je. Tak perlu kawatir akan kehabisan stok lagu tempo dulu. Pasalnya, ratusan koleksi piringan hitam lagu era 70-an dimiliki kafe ini. Nuansa tempo dulu makin kental dengan puluhan jam kuno yang terpajang rapi di dinding ruangan.
Kafe ini sebenarnya bekas garasi yang disulap menjadi ruangan unik berbau rock ’n roll. ”Saya lebih suka menyebutnya rock ’n roll cafe, tapi terserah orang lain menyebut apa,” ujar Priambodo Budiwasisto, pemilik kafe.
Kafe ini tak hanya digemari mereka yang berumur untuk bernostalgia dengan suasana 70-an. Ternyata kafe ini juga digemari anak muda. ”Banyak anak muda yang ke sini sambil mengerjakan tugas, atau konsultasi,” ungkap Priambodo.
Selain Lekker Je, restoran Kedai Tiga Nyonya yang menempati bangunan kuno di daerah Tugu juga memiliki nuansa tempo dulu. Meja dan kursi kayu bergaya kuno, pemutar piringan hitam kuno, seakan membawa pengunjungnya kembali ke era lama. Nama ”Tiga Nyonya” sendiri merupakan ide sang pemilik restoran setelah melihat foto tiga wanita yang terpajang di dinding restoran. Ketiga wanita dalam foto itu memiliki latar belakang berbeda, yaitu wanita Jawa, Belanda, dan Tionghoa.
Nuansa oriental terasa sangat kental di restoran ini. Ini dapat dilihat dari beraneka macam lampion khas Cina yang digantung di atap ruangan. Tulisan-tulisan dengan huruf Cina dan beberapa lukisan pun tampak menghiasi dinding.
Melihat pelayanan dan nuansa yang terkesan ’wah’, kesan mewah pun melekat pada restoran ini. Tak heran, jarang anak muda yang makan di tempat ini. ”Kebanyakan justru keluarga atau orang-orang yang akan meeting,” tutur Bayu, salah satu pegawai Kedai Tiga Nyonya .
Menjual suasana
Tidak ingin usahanya dinilai sama dengan yang lain, pemilik tempat makan bernuansa tempo dulu berlomba-lomba memberikan sesuatu yang beda untuk para pengunjung. Lekker Je misalnya, selain menjadi tempat nongkrong, ternyata ornamen-ornamen klasik ala rock ’n roll 70-an menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. ”Konsep yang ditawarkan beda dengan kafe-kafe yang lain, ruangannya juga lumayan keren untuk foto-foto,” ungkap Winda, salah seorang pengunjung. Bahkan, lantaran desain ruangannya yang unik, kafe ini pernah dipakai untuk pembuatan film indie dan pemotretan foto pre wedding.
Lain lagi dengan suasana yang coba ditawarkan Kedai Tiga Nyonya. Selain menonjolkan nuansa oriental sekaligus klasik, restoran ini juga menawarkan menu-menu dengan konsep tempo dulu. ”Masakan di sini resepnya turun-temurun dari leluhur pemiliknya,” ujar Bayu. Soal harga, memang perlu merogoh kocek cukup dalam. Namun, harga itu sesuai dengan keunikan dan kenyamanan suasana yang didapatkan pengunjung. Menarik kiranya berkumpul bersama rekan sembari merasakan nuansa tempo dulu. Silakan mencoba!

























